Evaluasi Prediksi PPDB SMA Jawa Barat 2018 di Kota Bandung

Seperti biasa, setiap prediksi passing grade PPDB yang sampai kepada saya dalam bentuk angka (tidak seperti prediksi buatan Duddy Arisandi sekarang, yang tidak memberi angka spesifik) akan dicek dengan passing grade aslinya dan diukur keakuratannya. Yang tidak seperti biasa, tahun ini Ganesha Operation menyembunyikan prediksinya dari pandangan publik. Tidak ada rilis resmi mengenai penyebab mereka melakukan hal ini, namun saya tidak akan terkejut seandainya hasil adu sakti tahun sebelumnya membuat mereka hanya mempublikasikan prediksi mereka secara terbatas.

Tahun ini, prediksi blog ini adalah satu-satunya prediksi yang akan dievaluasi keakuratannya secara lengkap. Seberapa akuratkah prediksi tersebut?

Sekolah Prediksi PG PG Asli* Error
SMAN 1 346.00 349.30 3.30
SMAN 2 355.50 358.70 3.20
SMAN 3 364.50 369.35 4.85
SMAN 4 346.50 349.55 3.05
SMAN 5 358.00 361.75 3.75
SMAN 6 328.50 329.45 0.95
SMAN 7 319.00 326.80 7.80
SMAN 8 356.00 363.15 7.15
SMAN 9 336.50 334.60 1.90
SMAN 10 327.50 333.00 5.50
SMAN 11 345.00 341.40 3.60
SMAN 12 353.00 350.25 2.75
SMAN 13 333.00 320.35 12.65
SMAN 14 339.00 339.75 0.75
SMAN 15 342.00 326.65 15.35
SMAN 16 319.00 320.50 1.50
SMAN 17 314.50 304.45 10.05
SMAN 18 315.00 305.95 9.05
SMAN 19 321.50 316.05 5.45
SMAN 20 347.00 352.60 5.60
SMAN 21 310.50 301.90 8.60
SMAN 22 341.00 339.70 1.30
SMAN 23 344.00 337.00 7.00
SMAN 24 354.00 354.95 0.95
SMAN 25 336.00 327.20 8.80
SMAN 26 331.50 316.95 14.55
SMAN 27 316.50 303.85 12.65
Rerata error 6.00

*hanya PG dalam provinsi yang dicantumkan untuk evaluasi

Alhamdulillah, prediksi Bicara PPDB tahun ini memecahkan rekor prediksi PG terakurat se-Bandung yang pernah dipublikasikan. Rerata error prediksi di atas adalah 6.00 (tepatnya 6.001852), memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang prediksi blog ini pada PPDB SMA Kota Bandung 2017 dengan rerata error 6.98 skala 400. Rekor prediksi terakurat yang dikeluarkan sebelum hari pertama pendaftaran PPDB masih dipegang Ganesha Operation pada PPDB Kota Bandung 2012, dengan rerata error 7.5 skala 400.

Walaupun demikian, ada beberapa hal yang patut diamati dari prediksi ini.

Pertama, untuk sekolah-sekolah favorit, prediksi ini terlalu rendah dibanding aslinya. Dari 9 sekolah dengan passing grade tertinggi, hanya SMAN 12 Bandung yang passing grade aslinya tidak lebih tinggi dari prediksi. Efek seperti ini tidak terjadi tahun sebelumnya, dan perlu diselidiki sebagai bahan evaluasi.

Sebaliknya, untuk sekolah-sekolah yang tidak terlalu difavoritkan siswa, prediksi ini terlalu tinggi dibanding aslinya. Dari 9 sekolah dengan passing grade terendah, hanya SMAN 16 Bandung yang passing grade aslinya tidak lebih rendah dari prediksi. Rerata error prediksi 9 sekolah “terbawah” adalah 9.98 poin. Namun efek ini muncul juga di tahun sebelumnya; pada 2017, rerata error prediksi 9 sekolah “terendah” adalah 8.83 poin. Saat itu, hanya 2 dari 9 sekolah “terbawah” yang passing grade aslinya lebih besar dari prediksi: SMAN 16 (masih!) serta SMAN 13.

Ada kemungkinan, metode prediksi yang ada sekarang sudah mampu memperoleh tebakan awal yang baik, namun untuk memperoleh keakuratan yang lebih tinggi kita perlu memperhatikan karakteristik masing-masing sekolah.

Kata orang, perlu dua kali melakukan kesalahan agar bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan memang salah. Dalam hal ini, prediksi dengan metode SCoRE yang dibuat di blog ini sudah dua kali memberi prediksi yang terlalu tinggi untuk passing grade sekolah-sekolah “terbawah”. Ini masih menjadi pertanyaan terbuka yang perlu dijawab tahun depan jika seleksi PPDB SMA berdasarkan nilai UN di Kota Bandung masih ada.

Intermezo: nyaris tidak ada perubahan berarti pada peringkat sekolah berdasarkan passing grade sekolah masing-masing. Peningkatan signifikan hanya terjadi di SMAN 9 (naik 4 peringkat dari posisi 18 ke posisi 14), sedangkan penurunan tajam hanya terjadi di SMAN 7 (turun 6 peringkat dari posisi 12 ke posisi 18 berdasarkan urutan passing grade dari tertinggi ke terendah). Sekolah-sekolah yang berada di peringkat 10 besar masih itu-itu juga, yang berarti masih butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan label sekolah favorit.

Bagaimana dengan prediksi Ganesha Operation?

Pak Luki (dulu dikenal di sini dengan nama Loeks) hanya mendapatkan prediksi GO untuk beberapa sekolah saja, tidak semuanya. Berikut prediksinya dan akan kita cek dengan aslinya:

  • SMA 1: prediksi 335.5, asli 349.3, error 13.8
  • SMA 2: prediksi 347.05, asli 358.7, error 11.65
  • SMA 3: prediksi 360.7, asli 369.35, error 8.65
  • SMA 4: prediksi 340.05, asli 349.55, error 9.5
  • SMA 5: prediksi 350.2, asli 361.75, error 11.55
  • SMA 20: prediksi 350.2, asli 352.60, error 2.4

Prediksi GO lebih akurat hanya untuk SMAN 20 jika dibandingkan dengan prediksi blog ini. Untuk lima sekolah lainnya, prediksi GO memiliki error yang lebih besar.

Rerata error prediksi GO untuk keenam sekolah ini adalah 9.59. Sebagai pembanding, rerata error prediksi GO untuk keenam sekolah ini pada tahun lalu adalah 13.67. Jika prediksi-prediksi GO tahun ini di sekolah-sekolah lainnya memiliki kualitas yang serupa, maka kita dapat memperkirakan bahwa keakuratan prediksi GO tahun ini lebih baik 4-6 poin dibanding tahun sebelumnya.

Iklan

PPDB Jabar Merusak Reputasi Zonasi

Tujuan PPDB zonasi tak lain dan tak bukan adalah agar siswa tinggal lebih dekat dengan sekolah. Tidak untuk PPDB SMA Jawa Barat 2018: Khusus tahun ini, lebih mudah lolos seleksi PPDB jika Anda berasal dari luar Jawa Barat.

Setidaknya di Kota Bandung, passing grade luar provinsi seluruh SMA negeri lebih kecil ketimbang passing grade dalam provinsi. Walaupun hati kecil saya pernah berharap hal ini terjadi, pada akhirnya penetapan ini menjadi kontradiktif dengan semangat zonasi.

Prinsip dasar aturan zonasi adalah siapa dekat dia dapat. PG luar provinsi yang lebih kecil ketimbang PG dalam provinsi memberi isyarat lebih mudah diterima sekolah jika berasal dari daerah yang jauh sekali ketimbang dari daerah yang dekat, persis kebalikan dari prinsip zonasi.

Mengapa terjadi kepada dirimu?

Udah ah, jangan alay. Mengapa PG luar provinsi bisa lebih kecil?

Di awal PPDB, kuota luar provinsi ditetapkan sebesar 5% dari jumlah pendaftar. Akan tetapi, aturan ini dibuat tanpa memperhatikan statistik pendaftar tahun sebelumnya. Untuk Kota Bandung setidaknya, pendaftar yang berasal dari luar Bandung Raya saja biasanya hanya berkisar 5%-10% dari total seluruh pendaftar. Pada PPDB jalur non-NHUN tahun ini, jumlah pendaftar luar provinsi kurang dari 5% jumlah seluruh pendaftar.

Setiap tahun hal ini selalu terjadi: aturan PPDB tahun berikutnya tidak didasarkan kepada keberjalanan dan statistik pendaftar PPDB tahun sebelumnya. Oleh karena itu penting bagi Disdik Jabar untuk menyimpan data PPDB 2018 tidak hanya sebagai dasar pengecekan kondisi riil siswa di sekolah, tetapi juga sebagai dasar penyusunan kebijakan PPDB 2019. Untuk tahun ini saja:

  • Kuota WPS 10% namun pendaftar membeludak, berarti kuota WPS perlu diperbesar
  • Kuota jalur prestasi 15% namun ada banyak sekolah yang kuota jalur prestasinya terisi penuh, berarti kuota jalur prestasi perlu diperkecil
  • Kuota luar provinsi 5% nyaris tidak terisi sama sekali (setidaknya di daerah yang jauh dari batas provinsi), berarti kuota luar provinsi di daerah selain batas provinsi perlu diperkecil
  • Prasangka buruk muncul akibat adanya jeda yang relatif panjang antara penutupan pendaftaran dan pengumuman, berarti upload data untuk tahun depan harus realtime serta rapat pleno (jika diperlukan) harus dilakukan segera setelah pendaftaran ditutup. Pengeluaran ekstra untuk membayar lembur tidak apa-apa jika memang diperlukan untuk terciptanya PPDB yang realtime.

Semua pengamatan ini didasarkan pada hasil di Kota Bandung. Jika pembaca mengamati daerah lain, harap bagikan juga hasil pengamatan Anda.

Kita sudah capek-capek berstatistika ria agar bisa lolos seleksi PPDB. Kini waktunya Disdik Jabar berstatistika ria untuk menyusun aturan PPDB yang seadil mungkin.

Passing Grade PPDB SMA Jawa Barat 2018 (khusus Kota Bandung)

Untuk sementara, saya upload screenshotnya dulu karena belum bisa mengakses PC. Berikut adalah passing grade PPDB SMA Jawa Barat 2018 di Kota Bandung.

Sekolah PG Dalam Provinsi PG Luar Provinsi
SMAN 1 349.30 266.35
SMAN 2 358.70 246.40
SMAN 3 369.35 353.15
SMAN 4 349.55 254.10
SMAN 5 361.75 315.00
SMAN 6 329.45 205.80
SMAN 7 326.80 254.10
SMAN 8 363.15 297.15
SMAN 9 334.60 322.35
SMAN 10 333.00 228.90
SMAN 11 341.40 297.85
SMAN 12 350.25 235.90
SMAN 13 320.35 0.00
SMAN 14 339.75 240.10
SMAN 15 326.65 271.95
SMAN 16 320.50 243.25
SMAN 17 304.45 0.00
SMAN 18 305.95 0.00
SMAN 19 316.05 289.80
SMAN 20 352.60 300.30
SMAN 21 301.90 259.00
SMAN 22 339.70 236.60
SMAN 23 337.00 206.85
SMAN 24 354.95 201.60
SMAN 25 327.20 233.80
SMAN 26 316.95 256.90
SMAN 27 303.85 234.50

Terimakasih kepada semua pembaca, tahun ini adalah tahun yang luar biasa.

Membuat PPDB yang Adil itu Susah, Part 2: Afirmasi

Menurut KBBI, afirmasi berarti penetapan yang positif; penegasan; pengakuan. Khusus untuk PPDB, afirmasi berarti perlindungan untuk kelompok tertentu dalam hal bersekolah. Namun setiap kelompok kata pada definisi afirmasi dalam PPDB ini menjadi bahan perdebatan. Di bagian kedua seri ini (part 1 ada pada tautan barusan), kita akan menggali lebih lanjut betapa sulitnya membuat PPDB yang adil dan bebas komplain.

Baca lebih lanjut

Selama Belum Pengumuman….

… masih mungkin ada perubahan.

Sudah dua tahun berturut-turut, PPDB SMA Jawa Barat menjadi PPDB yang penuh dengan perubahan hingga saat-saat terakhir. Pendaftar pertama dan pendaftar terakhir PPDB tidak bermain dengan aturan yang sama, sehingga bisa jadi salah satunya merasa dirugikan.

Ambillah, misalnya, bobot jarak. Awalnya, bobot jarak adalah 55% berdasarkan keputusan gubernur. Lalu, dengan sebuah update di situs resmi, bobot ini direvisi menjadi 30%. Tujuh puluh persen sisanya ditentukan nilai UN (atau skor prestasi, untuk pendaftar japres).

Skor jarak semula turun per 500 meter: 400 poin untuk 0-500 meter, 395 poin untuk 501-1000 meter, 390 poin untuk 1001-1500 meter, dst. Dengan satu post Instagram plus beberapa artikel media massa besar di Jawa Barat, bobot itu kini berubah menjadi per 1000 meter: 400 poin untuk 0-1000 meter, 395 poin untuk 1001-2000 meter, 390 poin untuk 2001-3000 meter, dst. Lagi-lagi, isi keputusan gubernur diubah mendadak.

Lucunya, perubahan skor jarak dilakukan tepat sebelum pendaftaran jalur NHUN. Artinya, pendaftar jalur prestasi masih menggunakan skor jarak yang lama, namun pendaftar jalur NHUN sudah menggunakan skor jarak yang baru.

Berikutnya, tampilan web. Hampir sepanjang pendaftaran jalur nonakademik, batas lolos (misal, jarak maksimal untuk pendaftar WPS) tidak langsung terlihat. Akibatnya, hasil seleksi tiap sekolah harus dibuka satu per satu. Idealnya, data tetap tersimpan hingga beberapa lama setelah PPDB berakhir untuk keperluan pengecekan ulang data siswa tiap sekolah dengan hasil PPDB untuk mengecek ada atau tidaknya siswa titipan. Namun jangankan hingga PPDB selesai, belum sehari jalur NHUN dibuka seluruh data jalur nonakademik hilang entah ke mana perginya!

Perubahan tampilan web belum berhenti sampai di situ. Kuota NHUN tiap sekolah masih nihil pada dua hari pertama pendaftaran. Kuota baru muncul di hari ketiga, namun PG sementara tidak tertampilkan dengan baik. PG sementara seluruh sekolah masih tertulis nol. Lagi-lagi, hasil seleksi harus dibuka satu per satu untuk mengecek PG sementara. Tak lama kemudian PG sementara tertampilkan dengan baik, namun kuota sekolah dilaporkan terus berubah-ubah hingga hari ini.

Yah, setidaknya pendaftaran sudah selesai. Minimal, semua drama sudah berakhir dan kita tinggal menunggu pengumuman, ya kan?

Tidak!

Masih mungkin ada data pendaftar yang diupload. Kok bisa? Macam-macam. Bisa jadi datanya dicek dua, tiga, bahkan empat kali sebelum upload karena kalau ada kesalahan, perbaikan datanya ribet. Bisa jadi operatornya menunda-nunda proses upload data. Bisa jadi pendaftar hari terakhir begitu banyak sehingga operator tidak bisa menyelesaikan upload pukul 2 siang. Belum lagi ada yang protes minta perbaikan data karena isi data di web tidak sesuai dengan dokumen yang diserahkan.

Masih ada drama mengenai kuota dan passing grade luar provinsi. Akankah sisa kuota luar provinsi dialokasikan ke kuota dalam provinsi, mengubah passing grade sekali lagi? Akankah sisa kuota itu dibiarkan kosong begitu saja? Kalau dibiarkan kosong, adakah pengisinya (Anda tahu apa maksud saya)? Jangan berargumen “Tapi Kang, menurut Kepgub …” karena kepgub sudah berkali-kali diubah sepanjang proses PPDB, dan ia bisa berubah lagi kalau para pemangku kebijakan menginginkan demikian.

Apakah passing grade luar provinsi akan disamakan dengan passing grade dalam provinsi? Kalau ya, berarti akan ada pendaftar luar provinsi yang terlempar dan akibatnya ada kursi kosong. Lalu kursi itu buat siapa? Dalam provinsi? Berarti mereka yang saat ini di pilihan 2 bisa kembali lagi ke pilihan 1? Atau dibiarkan begitu saja untuk orang-orang yang sudah menyiapkan sesajian?

Atau akankah passing grade luar provinsi dibiarkan sebagaimana adanya? Kalau demikian, berarti PG luar provinsi banyak yang lebih kecil dari PG dalam provinsi. Katanya mau zonasi, tapi kok lebih mudah diterima sekolah kalau tinggal 100 km dari sekolah ketimbang 10 km dari sekolah? Katanya siapa dekat dia dapat? Atau apakah memang Disdik Jabar mengambil saran saya tiga tahun lalu, membiarkan PG luar provinsi kecil untuk menampar keras orang-orang yang memindahkan alamat kartu keluarga mereka?

Apakah masih ada cukup kursi, meja, dan ruang kelas di sekolah-sekolah untuk menambah kuota PPDB dan memenuhi permintaan para netizen di Instagram? Apakah kuota akan dibiarkan pada angka yang ada sekarang? Kalau ada dan kuota bisa ditambah, kuota itu untuk siapa?

Masih banyak hal yang bisa berubah dari sekarang hingga pengumuman tanggal 12 Juli nanti. Kalau mengikuti budaya PPDB Kota Bandung zaman dulu, tanggal 11 mestinya akan ada rapat pleno membahas semua pertanyaan yang terlontar sepanjang postingan ini. Ada atau tidak ada rapat pleno, Disdik tetap harus membuat keputusan.

Jadi, harap standby, perbanyak screenshot, perbanyak copy-paste kalau Anda punya banyak waktu, perbanyak scraping kalau Anda jago programming (jangan seperti saya, IP address sebuah komputer di ITB diblock dari membuka situs PPDB, kemungkinan karena saya melakukan scraping sembarangan di tahun 2016). Dan tidak hanya kepgub yang berubah, saya pun berubah. Kini blog ini punya akun Instagram, namanya @bicarappdb. Silakan follow kalau berkenan, tapi ia masih malu memposting gambar.

Yang jelas, drama belum berakhir.

Seberapa Pentingkah Jarak?

Dengan diadakannya skor jarak, banyak yang mengeluh bahwa upaya belajarnya menjadi sia-sia karena terhalang jarak yang jauh ke sekolah. Berikut beberapa komplain ke akun Instagram Disdik Jabar mengenai hal tersebut:

Pertanyaannya, seberapa berpengaruhkah unsur jarak pada PPDB Jawa Barat 2018?

Skor jarak, sesuai revisi terbaru

Berikut adalah skor jarak untuk PPDB SMA Jabar 2017 jalur NHUN, sesuai revisi terbaru Disdik Jabar.

Untuk diingat, bobot skor jarak adalah 30% sedangkan bobot NHUN adalah 70%.

Jadi, seberapa besar pengaruh jarak?

Jarak tetap berpengaruh, tapi tidak sebesar yang dipikirkan beberapa orang. Mari kita dalami contoh berikut.

Misalnya Anda memiliki nilai UN 360 dan Anda tinggal 8,7 km dari sekolah pilihan Anda. Maka skor jarak Anda 360, sehingga total skor Anda adalah 30% × 360 + 70% × 360 = 108 + 252 = 360.

Seandainya Anda sempat berpindah rumah sehingga jarak Anda mendekat 1 km ke sekolah, maka jarak Anda menjadi 7,7 km dan skor jarak Anda menjadi 365. Maka skor akhir Anda berubah menjadi 30% × 365 + 70% × 360 = 109,5 + 252 = 361,5. Ada penambahan 1,5 poin dengan berpindah rumah menjadi 1 kilometer lebih dekat.

Misalnya Anda tidak sempat berpindah rumah, namun Anda berhasil memperbaiki hasil UN Bahasa Indonesia Anda dari benar 45 soal menjadi benar 46 soal, bertambah 1 soal. Maka nilai UN Bahasa Indonesia Anda bertambah dari 90 menjadi 92. Maka NUN anda bertambah dari 360 menjadi 362 sehingga skor akhir Anda menjadi 30% × 360 + 70% × 362 = 108 + 253,4 = 361,4. Ada penambahan 1,4 poin dengan belajar Bahasa Indonesia sedikit lebih keras lagi sehingga jumlah soal yang benar bertambah satu.

Misalnyanya Anda tidak sempat berpindah rumah dan nilai UN Bahasa Indonesia Anda tetap 90, namun Anda berhasil memperbaiki hasil UN matematika Anda dari benar 36 soal menjadi benar 37 soal, bertambah 1 soal. Maka nilai UN matematika Anda bertambah dari 90 menjadi 92,5. Maka NUN anda bertambah dari 360 menjadi 362,5 sehingga skor akhir Anda menjadi 30% × 360 + 70% × 362,5 = 108 + 253,75 = 361,75. Ada penambahan 1,75 poin dengan belajar matematika sedikit lebih keras lagi sehingga jumlah soal yang benar bertambah satu.

Jadi,

  • Memindahkan alamat rumah 1 km menambah skor akhir sebesar 1,5
  • Belajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris lebih giat menambah skor akhir sebesar 1,4 poin per soal
  • Belajar matematika atau IPA lebih giat menambah skor akhir sebesar 1,75 poin per soal

Maka dapat disimpulkan efek belajar satu SKL untuk menambah satu soal benar pada UN SMP hampir sama efeknya dengan memindahkan rumah sejauh 1 kilometer.

Tapi kan kang, rumah saya jauh…

Oke, misalkan rumah Anda berjarak 15 km dari sekolah, maka skor jarak Anda 350, dan nilai UN Anda 320, 80 untuk setiap mata pelajaran. Maka skor akhir Anda adalah 30% × 350 + 70% × 320 = 105 + 224 = 329.

Jika Anda berhasil mengontrak rumah tepat di sebelah sekolah, maka skor jarak Anda menjadi 400 dan skor akhir Anda berubah menjadi 30% × 400 + 70% × 320 = 120 + 224 = 344. Ada penambahan 15 poin. Besar, memang, tapi belajar giat memberi tambahan nilai yang lebih besar.

Jika Anda tidak berhasil mengontrak rumah namun berhasil menambah 2 soal benar untuk mata pelajaran Matematika dan IPA serta 3 soal benar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di UN SMP. Maka nilai UN Anda menjadi

  1. Bahasa Indonesia: 86
  2. Matematika: 85
  3. Bahasa Inggris: 86
  4. IPA: 85

Total NUN Anda sekarang 342, bertambah 22 poin. Dengan skor jarak yang tetap 350, skor akhir Anda berubah menjadi 30% × 350 + 70% × 342 = 105 + 239,4 = 344,4. Sedikit lebih baik dibandingkan memindahkan alamat KK.

Maka, dapat disimpulkan bahwa selama nilai UN Anda masih di bawah 378, tekun belajar lebih efektif menaikkan skor akhir ketimbang memindahkan alamat KK.

Memang, saya tidak setuju penggunaan skor jarak pada PPDB jalur NHUN. Namun demikian, mengingat bobot skor jarak masih dapat dikalahkan dengan belajar lebih giat, rasanya kita tidak perlu komplain habis-habisan mengenai penggunaan skor jarak tersebut.